Slide Show

  • Saya sedang ada di Bale Santika UNPAD
  • My Picture When Registration
  • Me and The Unusable Plane
  • Like Father Like Sons
  • Adik Saya M.Bayu Yuliansyah

Kamis, 26 Juli 2012

Coretan Saat Naik Pesawat


Bonjour, teman-teman! Pada tahu apa itu  bonjour? Bonjour adalah bahasa Prancis dari Hola. So, bonjour sinyorita. Kawan sesuai janji hari ini saya akan mencoret sedikit mengenai pengalaman saya saat belajar bagaimana cara naik pesawat sendiri bersama ayah saya. Saya rasa ini kaan bermanfaat bagi teman-teman juga yang ingin mencoba naik pesawat sendiri, ya meskipun tidak banyak saya yakin pasti ada, kok. Coretan kali ini juga diwarnai insiden-insiden yang pasti bisa menjadi bahan refleksi. Saya lebih menekankannya pada pasti.
Cerita dimulai saat Negara api menyerang, eh salah, ceritanya dimulai saat selesai sahur di hari kedua puasa, hari Senin. Barang-barang yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya sudah ada di ruang tengah, terlihat 2 buah koper besar, 1 koper kecil, dan 2 buah tas teronggok di sana. Selesai makan sahur, kembali kami mengecek semua barang yang akan dibawa. Ini penting kawan, karena ketinggalan satu lembar kartu pelajar saja, dan kalian baru menyadarinya saat sampai tempat tujuan sama dengan bahaya besar, saya ulangi bahaya besar. Mengapa saya terkesan lebay?  Sebenarnya bukan begitu, ini tidak berlebihan karena saya sempat merasakannya, saat di Bandara Sultan Mahmud Badarrudin II Palembang, saya dimintai Kartu Pelajar oleh petugas Boarding untuk menukarkan bukti booking tiket dengan tiket, sontak saya mencarinya di dompet, karena biasanya kartu itu tidak pernah berpindah dari saranganya. Tetapi sejurus kemudian saya baru sadar bahwa kartu itu tidak ada, dan saya mulai panik. Pikiran saya  berseri sambil berbeisik habislah saya, sambil pikiran saya  tetap menelusuri di manakah kira-kira saya menaruh kartu itu. Tak berapa lama, ayah saya yang membaca gerak-gerik kebingungan ini langsung mengambil KTP-nya dan memberikannya pada petugas Boarding, untuk dia hanya meminta salah satu KTP dari kami berdua.
Setelah selesai urusan dengan petugas boarding, ayah saya bertanya, “Katanya sudah siap semua?” Pertanayaan yang sebenarnya teguran. Kawan, saya sudah ingatkan ya, jangan remehkan sedikit pun barang bawaan kita, siapkan semuanya! Setelah berjalan menaiki eskalator dan duduk di bangku panjang ruang tunggu pikiran saya yang sedari tadi masih menjelajah akhirnya menemukan bayangan saat saya duduk mengerjakan soal-soal SIMAK UI. “Oh ya pasti ada di papan ujian!” saya langsung menurunkan tas yang saya sandang dan memeriksa papan ujian yang memang sengaja saya bawa, dan di bagian penjepitnya sudah tak ada lagi Kartu Tanda Pelajar itu. Sedih? Tentu tidak kawan, saya masih terus mencarinya karena saya pikir kartu itu pasti jatuh dan masih ada di tas itu, dan setelah sedikit membongkar tas saya menemukannya terjepit di bagian bawah tas. Saya masih beruntung karena ditemukan. Coba sekarang saya ajak kawan membayangkan apabila saat mau wawancara pekerjaan terus KTP Anda yang Anda yakin selalu ada di dompet tiba-tiba tidak ada, padahal Anda sudah sampai ruang tunggu wawancara, dan wawancara itu mewajibkan pesertanya menunjukan identitas diri. Bagaimana perasaannya. (Menepuk pundak) Yuk, Mari bersama introspeksi diri.
Kembali ke cerita lagi yuk, tak berapa lama menunggu di ruang tunggu panggilan untuk penerbangan kami JT sekian terdengar di pengeras suara, sontak saya dan ayah saya pergi ke pintu keberangkatan dan berjalan menaiki pesawatnya. Saya sempat berfoto di depan pesawat yang tidak jadi kami naiki.

Me with the Unusable plane ^_^


 Seat kami adalah 23 C dan D. Setelah duduk kami menunggu beberapa lama. Memang tidak lama kemudian semua penumpang sudah naik, dan pramugaridan pramugara sudah memperagakan prosedur keselamatan wajib yang harus diperagakan oleh seluruh maskapai penerbanagan, tetapi akhirnya pesawat kami tidak jadi berangkat. Pilot Romi yang masih menantu dari Uwak saya, saya bisasnya memanggilnya Kak Romi beserta co-Pilotnya yang asli Belgia memutuskan bahwa pesawat itu tidak layak untuk terbang dan semua penumpang termasuk saya dan ayah saya untuk pindah pesawat. Sambil tersenyum dalam hati saya berpikir, “Ini adalah pelajaran untuk saya saat sudah jadi diplomat, untuk tidak memaksakan dan tetap memprioritaskan keselamatan bersama.” Image maskapai itu memang sedikit turun di mata beberapa orang biasa, tapi sangat naik di mata orang-orang pintar. Sedikit turun tidak akan masalah kalau lawannya banyak naik di kalangan orang pandai.
Orang yang memaksakan kehendak akan hanya ragu untuk mengambil keputusan tersebut, karena pertaruhannya nama baik, tapi orang seperti kami akan berpikir masih ada kesempatan untuk tetap mengambil keputusan tepat dan menaikan nama baik. Kalau nanti saya jadi diplomat, saya beserta teman-teman dari Kementrian Luar Negeri Indonesia sudah duduk di dalam pesawat yang sebetulnya tidak layak untuk terbang kemudian kami disuruh turun dan berpindah pesawat, kami justru akan sangat senang karena keselamatan kami diprioritaskan daripada sekedar menjaga nama baik sesaat. ^_^
Coretan kisah terbang-terbangannya sampai di sini dulu. Besok akan saya lanjutkan lagi, kebetulan tinta untuk mencoretnya sedang dipinjam oleh adik saya Bayu dan Caca untuk belajar. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar