Bonjour, teman-teman! Pada tahu apa
itu bonjour?
Bonjour adalah bahasa Prancis dari Hola. So, bonjour sinyorita. Kawan sesuai janji hari ini saya akan
mencoret sedikit mengenai pengalaman saya saat belajar bagaimana cara naik
pesawat sendiri bersama ayah saya. Saya rasa ini kaan bermanfaat bagi
teman-teman juga yang ingin mencoba naik pesawat sendiri, ya meskipun tidak
banyak saya yakin pasti ada, kok. Coretan
kali ini juga diwarnai insiden-insiden yang pasti bisa menjadi bahan
refleksi. Saya lebih menekankannya pada pasti.
Cerita
dimulai saat Negara api menyerang, eh salah,
ceritanya dimulai saat selesai sahur di hari kedua puasa, hari Senin.
Barang-barang yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya sudah ada di ruang
tengah, terlihat 2 buah koper besar, 1 koper kecil, dan 2 buah tas teronggok di
sana. Selesai makan sahur, kembali kami mengecek semua barang yang akan dibawa.
Ini penting kawan, karena ketinggalan satu lembar kartu pelajar saja, dan
kalian baru menyadarinya saat sampai tempat tujuan sama dengan bahaya besar,
saya ulangi bahaya besar. Mengapa saya terkesan lebay? Sebenarnya bukan
begitu, ini tidak berlebihan karena saya sempat merasakannya, saat di Bandara
Sultan Mahmud Badarrudin II Palembang, saya dimintai Kartu Pelajar oleh petugas
Boarding untuk menukarkan bukti booking tiket dengan tiket, sontak saya
mencarinya di dompet, karena biasanya kartu itu tidak pernah berpindah dari
saranganya. Tetapi sejurus kemudian saya baru sadar bahwa kartu itu tidak ada,
dan saya mulai panik. Pikiran saya berseri
sambil berbeisik habislah saya, sambil pikiran saya tetap menelusuri di manakah kira-kira saya
menaruh kartu itu. Tak berapa lama, ayah saya yang membaca gerak-gerik
kebingungan ini langsung mengambil KTP-nya dan memberikannya pada petugas
Boarding, untuk dia hanya meminta salah satu KTP dari kami berdua.
Setelah
selesai urusan dengan petugas boarding, ayah saya bertanya, “Katanya sudah siap
semua?” Pertanayaan yang sebenarnya teguran. Kawan, saya sudah ingatkan ya,
jangan remehkan sedikit pun barang bawaan kita, siapkan semuanya! Setelah
berjalan menaiki eskalator dan duduk di bangku panjang ruang tunggu pikiran
saya yang sedari tadi masih menjelajah akhirnya menemukan bayangan saat saya
duduk mengerjakan soal-soal SIMAK UI. “Oh ya pasti ada di papan ujian!” saya
langsung menurunkan tas yang saya sandang dan memeriksa papan ujian yang memang
sengaja saya bawa, dan di bagian penjepitnya sudah tak ada lagi Kartu Tanda
Pelajar itu. Sedih? Tentu tidak kawan, saya masih terus mencarinya karena saya
pikir kartu itu pasti jatuh dan masih ada di tas itu, dan setelah sedikit
membongkar tas saya menemukannya terjepit di bagian bawah tas. Saya masih
beruntung karena ditemukan. Coba sekarang saya ajak kawan membayangkan apabila
saat mau wawancara pekerjaan terus KTP Anda yang Anda yakin selalu ada di
dompet tiba-tiba tidak ada, padahal Anda sudah sampai ruang tunggu wawancara,
dan wawancara itu mewajibkan pesertanya menunjukan identitas diri. Bagaimana
perasaannya. (Menepuk pundak) Yuk, Mari bersama introspeksi diri.
Kembali
ke cerita lagi yuk, tak berapa lama menunggu di ruang tunggu panggilan untuk
penerbangan kami JT sekian terdengar di pengeras suara, sontak saya dan ayah
saya pergi ke pintu keberangkatan dan berjalan menaiki pesawatnya. Saya sempat
berfoto di depan pesawat yang tidak jadi kami naiki.
![]() |
| Me with the Unusable plane ^_^ |
Seat kami adalah 23 C dan D. Setelah duduk
kami menunggu beberapa lama. Memang tidak lama kemudian semua penumpang sudah
naik, dan pramugaridan pramugara sudah memperagakan prosedur keselamatan wajib
yang harus diperagakan oleh seluruh maskapai penerbanagan, tetapi akhirnya
pesawat kami tidak jadi berangkat. Pilot Romi yang masih menantu dari Uwak saya, saya bisasnya memanggilnya
Kak Romi beserta co-Pilotnya yang asli Belgia memutuskan bahwa pesawat itu
tidak layak untuk terbang dan semua penumpang termasuk saya dan ayah saya untuk
pindah pesawat. Sambil tersenyum dalam hati saya berpikir, “Ini adalah
pelajaran untuk saya saat sudah jadi diplomat, untuk tidak memaksakan dan tetap
memprioritaskan keselamatan bersama.” Image maskapai itu memang sedikit turun
di mata beberapa orang biasa, tapi sangat naik di mata orang-orang pintar.
Sedikit turun tidak akan masalah kalau lawannya banyak naik di kalangan orang
pandai.
Orang
yang memaksakan kehendak akan hanya ragu untuk mengambil keputusan tersebut,
karena pertaruhannya nama baik, tapi orang seperti kami akan berpikir masih ada
kesempatan untuk tetap mengambil keputusan tepat dan menaikan nama baik. Kalau
nanti saya jadi diplomat, saya beserta teman-teman dari Kementrian Luar Negeri
Indonesia sudah duduk di dalam pesawat yang sebetulnya tidak layak untuk
terbang kemudian kami disuruh turun dan berpindah pesawat, kami justru akan
sangat senang karena keselamatan kami diprioritaskan daripada sekedar menjaga
nama baik sesaat. ^_^
Coretan
kisah terbang-terbangannya sampai di sini dulu. Besok akan saya lanjutkan lagi,
kebetulan tinta untuk mencoretnya sedang dipinjam oleh adik saya Bayu dan Caca
untuk belajar. ^_^






Tidak ada komentar:
Posting Komentar