Pagi
di Jatinangor memang sangat dingin, sesudah sahur saya dan ayah saya biasanya
akan tidur dulu sambil menuggu waktu subuh tiba. Soal makan sahurnya kami makan
makanan yang kami beli malamnya untuk berbuka puasa. Saya jadi ingat saat
bertemu dengan anak Ilmu Adm. Negara dari Jakarta di hari tiket “deg-degan”,
namanya Fandi, dia anak IPA yang akhirnya masuk jurusannya anak IPS, realita
yang sama seperti yang saya rasakan, eh
bukan rasakan tapi nikmati. Fandi datang ke Jatinangor bersama Ibunya. Saat
saya sedang menanyakan mengenai hari libur yang “tidak pasti” kepada mahasiswa
yang tergabung dalam FKDF (Forum Komunikasi Dakwah Fakultas) yang selalu
berkoar-koar mengajak mahasiswa baru dan orang tua untuk mampir ke lesehan mereka
di bawah patung khas UNPAD, (Mereka mengajak mapir karena mereka menyediakan
informasi mengenai Jatinagor dan UNPAD khususnya.red) Fandi beserta Ibunya
ngobrol dengan ayah saya, mereka berbicara mengenai pendidikan sekarang.
Sesudah
saya mendapat informasi dari FKDF saya menghampiri ayah saya. Tunggu kawan saya
ingin memberi tahu informasi yang saya dapat, pertama saya tahu bahwa jadwal
libur harus ditanyakan pada instansi resmi seperti TU masing-masing jurusan,
karena mahasiswa FKDF pun kurang yakin akan hal tersebut. Kedua, modem yang
bagus di Jatinagor adalah modem-modem GSM (saya membeli modem Axis dan saya
tertolong karena saya bisa menonton Metro TV dkk. secara live streaming). Informasi libur memang tidak didapatkan, tapi saya
bersyukur bisa bersilaturahmi ke sana. Oh ya, setelah saya berkenalan dengan
Fandi, ayah saya bilang bahwa kami akan melanjutkan perjalanan mencari rice cooker, karena saya mau diajarkan
masak sendiri. Sontak Ibu Fandi pun berkata, “Iya kalau tidak susah-susah mah bukan mencari ilmu namanya.” Ya
semoga mencari ilmu bisa saya nikmati tanpa merasa kesusahan. Nah, kawan
makanan untuk buka puasa itu lauknya kami sisakan untuk sahur dan kami makan
kembali saat sahur nanti. Tidak banyak, tapi sangt cukup. Ya, ini tidak bisa
disebut susah-susah juga kan?
Kawan
Insya Allah saya akan ceritakan tentang “tiket deg-degan” nanti ya. Sekarang
saya akan menceritakan mengenai “seribu tanda tangan sang calon diplomat”.
Tidak sampai seribu tapi banyak tanda tangannya. ^_^
Sesudah
sahur dan sholat shubuh kami seperti biasa orang yang kedinginan kembali tidur
sampai sang matahari menampakan diri. Pukul 09.00 kami sudah siap dengan jaket
dan semangat baru. Jaket? Ya jam 9 di Jatinangor masih dingin tapi tidak tahu
kalau efek global warming terus makin
parah. Jadwal kami hari ini adalah membuka rekening. Sebelumnya saya memang
sudah berkeliling dan menemukan bahwa di pintu gerbang lama UNPAD ada BNI. Kami
memutuskan untuk membuka rekening tabungan di sana. Mengapa perlu? Ini perlu
agar apabila nanti masa perkuliahan sudah berjalan akan lebih mudah untuk
mendapat dan membayarkan uang kita dari dan pada kegiatan mahasiswa. Saya garis
bawahi dari dan pada ya.
Setelah
masuk ke bank dan mendapat nomor antrian 23-B, B artinya mengantri untuk
Customer Service, saya langsung duduk dan mengutarakan niat mau membuka
rekening mahasiswa. Nah, ini keuntungannya kawan, kalau kita membuka rekening
mahasiswa kita hanya mendapat potongan administrasi perbulan sebesar
Rp1.000,00, bandingkan dengan potongan untuk tabungan non-mahasiswa sebesar
Rp10.000,00, hanya beda satu 0 tapi sudah membedakan 9 kopi putih di took sabar-subur
(mahasiswa kost yang super hemat.red).
Seperti
bias C.S (Customer Service) meminta identitas mahasiswa (KTM) dan KTP. Ternyata
KTP di sini bisa diganti dengan kartu lain lho. Sebenarnya apa tujuan dari
persyaratan KTP ini? Sebenarnya pihak bank hanya ingin mencocokan tanda tangan
kita saat pengajuan dan tanda tangan kita selama ini. Kalau banker menyebutnya
verifikasi tanda tangan. Kawan, ternyata Kartu Tanda Pelajar saya tidak ada
tanda tangannya, sementara e-KTP saya yang sudah saya buat bulan puasa tahun
lalu hingga sekarang belum jadi. Oleh karena itu, petugas bank meminta saya
untuk menuliskan tanda tangan yang pas sesuai dengan kartu identitas lain yang
saya miliki yaitu kartu ATM BNI saya yang lama yang saldonya tinggal 0 rupiah.
Tanda
tangan pertama saya tidak mirip dengan tanda tangan saya di kartu ATM itu,
sehingga saya diminta menguji coba tanda tangan di kertas kosong milik BNI
sampai tanda tangan saya sesuai. Saya coba berkali-kali tapi tidak ada yang
mirip, tapi setelah saya pikir tanda tangan tak mungkin berubah, makanya saya
memperhatikan kembali tanda tangan saya di ATM itu, saya amati dengan seksama
dan akhirnya saya coba dan Alhamdulillah masih gagal.
Menyerah?
Tentu tidak, diplomat pantang menyerah, saya coba lagi sampai C.S izin untuk ke
belakang. Saya habiskan dua kertas kosong dan akhirnya C.S itu pun mengakui
bahwa tanda tangan saya sama dengan yang ada di ATM. Alhamdulillah, tapi saya
lihat di meja tempat saya duduk kertas yang tersisa tinggal satu, saya
mencari-cari kertas yang penuh dengan tanda tangan “galau” saya.
Ternyata
kertas itu sudah dibuang oleh si C.S ke tempat sampah. Tapi saya minta kembali
untuk kenang-kenangan 1000 tanda tangan sang Calon Diplomat. ^_^







