Slide Show

  • Saya sedang ada di Bale Santika UNPAD
  • My Picture When Registration
  • Me and The Unusable Plane
  • Like Father Like Sons
  • Adik Saya M.Bayu Yuliansyah

Jumat, 27 Juli 2012

1000 Tanda Tangan sang Calon Diplomat


Pagi di Jatinangor memang sangat dingin, sesudah sahur saya dan ayah saya biasanya akan tidur dulu sambil menuggu waktu subuh tiba. Soal makan sahurnya kami makan makanan yang kami beli malamnya untuk berbuka puasa. Saya jadi ingat saat bertemu dengan anak Ilmu Adm. Negara dari Jakarta di hari tiket “deg-degan”, namanya Fandi, dia anak IPA yang akhirnya masuk jurusannya anak IPS, realita yang sama seperti yang saya rasakan, eh bukan rasakan tapi nikmati. Fandi datang ke Jatinangor bersama Ibunya. Saat saya sedang menanyakan mengenai hari libur yang “tidak pasti” kepada mahasiswa yang tergabung dalam FKDF (Forum Komunikasi Dakwah Fakultas) yang selalu berkoar-koar mengajak mahasiswa baru dan orang tua untuk mampir ke lesehan mereka di bawah patung khas UNPAD, (Mereka mengajak mapir karena mereka menyediakan informasi mengenai Jatinagor dan UNPAD khususnya.red) Fandi beserta Ibunya ngobrol dengan ayah saya, mereka berbicara mengenai pendidikan sekarang.
Sesudah saya mendapat informasi dari FKDF saya menghampiri ayah saya. Tunggu kawan saya ingin memberi tahu informasi yang saya dapat, pertama saya tahu bahwa jadwal libur harus ditanyakan pada instansi resmi seperti TU masing-masing jurusan, karena mahasiswa FKDF pun kurang yakin akan hal tersebut. Kedua, modem yang bagus di Jatinagor adalah modem-modem GSM (saya membeli modem Axis dan saya tertolong karena saya bisa menonton Metro TV dkk. secara live streaming). Informasi libur memang tidak didapatkan, tapi saya bersyukur bisa bersilaturahmi ke sana. Oh ya, setelah saya berkenalan dengan Fandi, ayah saya bilang bahwa kami akan melanjutkan perjalanan mencari rice cooker, karena saya mau diajarkan masak sendiri. Sontak Ibu Fandi pun berkata, “Iya kalau tidak susah-susah mah bukan mencari ilmu namanya.” Ya semoga mencari ilmu bisa saya nikmati tanpa merasa kesusahan. Nah, kawan makanan untuk buka puasa itu lauknya kami sisakan untuk sahur dan kami makan kembali saat sahur nanti. Tidak banyak, tapi sangt cukup. Ya, ini tidak bisa disebut susah-susah juga kan?
Kawan Insya Allah saya akan ceritakan tentang “tiket deg-degan” nanti ya. Sekarang saya akan menceritakan mengenai “seribu tanda tangan sang calon diplomat”. Tidak sampai seribu tapi banyak tanda tangannya. ^_^
Sesudah sahur dan sholat shubuh kami seperti biasa orang yang kedinginan kembali tidur sampai sang matahari menampakan diri. Pukul 09.00 kami sudah siap dengan jaket dan semangat baru. Jaket? Ya jam 9 di Jatinangor masih dingin tapi tidak tahu kalau efek global warming terus makin parah. Jadwal kami hari ini adalah membuka rekening. Sebelumnya saya memang sudah berkeliling dan menemukan bahwa di pintu gerbang lama UNPAD ada BNI. Kami memutuskan untuk membuka rekening tabungan di sana. Mengapa perlu? Ini perlu agar apabila nanti masa perkuliahan sudah berjalan akan lebih mudah untuk mendapat dan membayarkan uang kita dari dan pada kegiatan mahasiswa. Saya garis bawahi dari dan pada ya.
Setelah masuk ke bank dan mendapat nomor antrian 23-B, B artinya mengantri untuk Customer Service, saya langsung duduk dan mengutarakan niat mau membuka rekening mahasiswa. Nah, ini keuntungannya kawan, kalau kita membuka rekening mahasiswa kita hanya mendapat potongan administrasi perbulan sebesar Rp1.000,00, bandingkan dengan potongan untuk tabungan non-mahasiswa sebesar Rp10.000,00, hanya beda satu 0 tapi sudah membedakan 9 kopi putih di took sabar-subur (mahasiswa kost yang super hemat.red).
Seperti bias C.S (Customer Service) meminta identitas mahasiswa (KTM) dan KTP. Ternyata KTP di sini bisa diganti dengan kartu lain lho. Sebenarnya apa tujuan dari persyaratan KTP ini? Sebenarnya pihak bank hanya ingin mencocokan tanda tangan kita saat pengajuan dan tanda tangan kita selama ini. Kalau banker menyebutnya verifikasi tanda tangan. Kawan, ternyata Kartu Tanda Pelajar saya tidak ada tanda tangannya, sementara e-KTP saya yang sudah saya buat bulan puasa tahun lalu hingga sekarang belum jadi. Oleh karena itu, petugas bank meminta saya untuk menuliskan tanda tangan yang pas sesuai dengan kartu identitas lain yang saya miliki yaitu kartu ATM BNI saya yang lama yang saldonya tinggal 0 rupiah.
Tanda tangan pertama saya tidak mirip dengan tanda tangan saya di kartu ATM itu, sehingga saya diminta menguji coba tanda tangan di kertas kosong milik BNI sampai tanda tangan saya sesuai. Saya coba berkali-kali tapi tidak ada yang mirip, tapi setelah saya pikir tanda tangan tak mungkin berubah, makanya saya memperhatikan kembali tanda tangan saya di ATM itu, saya amati dengan seksama dan akhirnya saya coba dan Alhamdulillah masih gagal.
Menyerah? Tentu tidak, diplomat pantang menyerah, saya coba lagi sampai C.S izin untuk ke belakang. Saya habiskan dua kertas kosong dan akhirnya C.S itu pun mengakui bahwa tanda tangan saya sama dengan yang ada di ATM. Alhamdulillah, tapi saya lihat di meja tempat saya duduk kertas yang tersisa tinggal satu, saya mencari-cari kertas yang penuh dengan tanda tangan “galau” saya. 

Ternyata kertas itu sudah dibuang oleh si C.S ke tempat sampah. Tapi saya minta kembali untuk kenang-kenangan 1000 tanda tangan sang Calon Diplomat. ^_^

Kamis, 26 Juli 2012

Belajar Menikmati Pesawat-Pesawatan


Bonjour Sinyorita, masih mantengin coretan Si Calon Diplomat kan? Ya semoga coretan ini bisa menjadi amal Jariyah, bagi kita semua. Bagi kita semua ya bukan hanya untuk saya. Coretan ini adalah lanjutan dari coretan sebelumnya “Belajar Terbang-terbangan”, coretan kali ini lebih pas kalau disebut “Belajar Menikmati Terbang-terbangan”.  Saya ingatkan coretan kali ini berbau relatif, jadi yang sudah belajar relativitas (Fisika SMA Kelas XII) ataupun yang belum pasti bisa saja punya pendapat lain.
Sinyorita terbang dengan pesawat ataupun berpergian mengguanakan kendaraan umum apapun sudah sewajarnya harus kita nikmati. Menikmati naik kereta api lebih baik daripada kita hanya tidur sepanjang jalan kenangan di kereta api tersebut, begitu pula saat naik kapal laut, menikmati mabuk laut di buritan kapal lebih baik daripada sehat tetapi hanya tidur di ruang tunggu kapal. Toh, kawan biaya naik orang yang menikmati dengan orang yang tidur tetap sama. Sekali lagi ini relatif.
Saat naik pesawat kedua setelah dipindahkan tempat duduk kami tidak lagi di seat 23, karena salah seorang pramugaranya bilang duduknya boleh di mana saja asal tidak mengganggu yang lain, aya saya pun bilang kalau kita bisa duduk di Emergency seat. Pelajaran untuk menikmati naik pesawat terbang adalah duduk di Emergency seat. Tempat duduk ini istimewa lho, kalian bisa duduk dengan lebih leluasa di sini. Daerah kakinya jauh lebih luas daripada tempat duduk yang lain. Sehingga kita bisa menggerakkan kaki dengan bebas. Oh ya, kita juga akan mendapatkan penjelasan khusus bagaimana cara duduk di Emergency seat. Nikmat yang lebih nikmat daripada dua hal yang tadi adalah kita bisa dilatih bertanggung jawab, karena tanggung jawab orang yang duduk di Emergency seat lumayan besar yaitu menolong penumpang-penumpang untuk keluar lewat pintu darurat di samping Emergency seat saat terjadi musibah. Nikmat bukan kawan-kawan relatif, makanya saat di petugas boarding nanti mintalah duduk di Emergency seat.
Tak berapa lama setelah take off, ayah saya dipanggil untuk bertemu Kapten Romi di kokpitnya dan saya tidak diajak. Sebagai seorang calon diplomat yang sudah selesai membaca komik Conan seri 6 yang saya bawa, memutuskan untuk bisa menikmati pesawat meskipun tidak diajak ke kokpit ^_^. “Nanti saat saya jadi diplomat saya akan merasakan ke kokpit” celoteh hati saya. Hal yang pertama yang saya lakukan adalah mencoba toilet di pesawat, mulanya ragu tapi karena memang sudah ingi ke toilet saya mencobanya. Di penerbangan inilah saya pertama kalinya mencoba toilet di pesawat, mau tahu rasanya? Coba saja pasti lega deh, oh ya saya sarankan untuk menjaga keseimbangan ya, soalnya pesawat akan tetap mengalami turbulensi (guncangan sedikit) saat kita di toilet. ^_^
Oh ya saat masih di toilet pesawat saya bermaksud ingin memotret bagaimana sebenarnya toilet pesawat itu, tapi saya ingat peraturan kalau menyalakan HP di pesawat bisa menerima hukuman kurungan 2 tahun penjara, undang-undang yang kembali kurang tegas pengawasannya, saya tidak jadi melakukannya. Setelah selesai mencoba menggunakan toilet di pesawat saya kembali duduk dan ternyata ayah saya masih ada di ruang kokpit. Saya membuka kembali komik Conan dan membaca ulang bagian saat Conan ditipu oleh kedua orang tuanya sendiri.
Belum selesai membaca ada pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat. Sabuk pengaman mulai kembali dikenakan, setelah pesawat jgadagjgedugjgedagjgedug dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah mati, ayah saya belum kembali ke tempat duduknya. Ya akhirnya, kawan setelah giliran mengambil barang dari bagasi atas ayah saya kembali dating, kalu tidak saya bisa kerepotan dengan 1 koper dan 2 tas. Setelah selesai dan berjalan menuju pintu keluar ayah saya menyuruh saya untuk bersalaman dengan Kak Romi di runag kokpit. Akhirnya, saya tidak perlu menunggu saat kelak menjadi diplomat untuk masuk ke ruang kokpit. Dan yang membuat saya lebih berkesan adalah saat bersalaman dengan Kak Romi, saya dikenalkan dengan co-pilotnya yang berasal dari Belgia. Hebat bukan orang Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. ^_^
Adik Saya M. Bayu Yuliansyah
Petualangan di Jatinagor sebagai calon diplomat yang baik akan terus berlangsung semoga coretan sang calon diplomat kali ini bisa bermanfaat ya. Sampai jumpa di coretan berikutnya. Untung saya masih punya kertas kosong.  

Coretan Saat Naik Pesawat


Bonjour, teman-teman! Pada tahu apa itu  bonjour? Bonjour adalah bahasa Prancis dari Hola. So, bonjour sinyorita. Kawan sesuai janji hari ini saya akan mencoret sedikit mengenai pengalaman saya saat belajar bagaimana cara naik pesawat sendiri bersama ayah saya. Saya rasa ini kaan bermanfaat bagi teman-teman juga yang ingin mencoba naik pesawat sendiri, ya meskipun tidak banyak saya yakin pasti ada, kok. Coretan kali ini juga diwarnai insiden-insiden yang pasti bisa menjadi bahan refleksi. Saya lebih menekankannya pada pasti.
Cerita dimulai saat Negara api menyerang, eh salah, ceritanya dimulai saat selesai sahur di hari kedua puasa, hari Senin. Barang-barang yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya sudah ada di ruang tengah, terlihat 2 buah koper besar, 1 koper kecil, dan 2 buah tas teronggok di sana. Selesai makan sahur, kembali kami mengecek semua barang yang akan dibawa. Ini penting kawan, karena ketinggalan satu lembar kartu pelajar saja, dan kalian baru menyadarinya saat sampai tempat tujuan sama dengan bahaya besar, saya ulangi bahaya besar. Mengapa saya terkesan lebay?  Sebenarnya bukan begitu, ini tidak berlebihan karena saya sempat merasakannya, saat di Bandara Sultan Mahmud Badarrudin II Palembang, saya dimintai Kartu Pelajar oleh petugas Boarding untuk menukarkan bukti booking tiket dengan tiket, sontak saya mencarinya di dompet, karena biasanya kartu itu tidak pernah berpindah dari saranganya. Tetapi sejurus kemudian saya baru sadar bahwa kartu itu tidak ada, dan saya mulai panik. Pikiran saya  berseri sambil berbeisik habislah saya, sambil pikiran saya  tetap menelusuri di manakah kira-kira saya menaruh kartu itu. Tak berapa lama, ayah saya yang membaca gerak-gerik kebingungan ini langsung mengambil KTP-nya dan memberikannya pada petugas Boarding, untuk dia hanya meminta salah satu KTP dari kami berdua.
Setelah selesai urusan dengan petugas boarding, ayah saya bertanya, “Katanya sudah siap semua?” Pertanayaan yang sebenarnya teguran. Kawan, saya sudah ingatkan ya, jangan remehkan sedikit pun barang bawaan kita, siapkan semuanya! Setelah berjalan menaiki eskalator dan duduk di bangku panjang ruang tunggu pikiran saya yang sedari tadi masih menjelajah akhirnya menemukan bayangan saat saya duduk mengerjakan soal-soal SIMAK UI. “Oh ya pasti ada di papan ujian!” saya langsung menurunkan tas yang saya sandang dan memeriksa papan ujian yang memang sengaja saya bawa, dan di bagian penjepitnya sudah tak ada lagi Kartu Tanda Pelajar itu. Sedih? Tentu tidak kawan, saya masih terus mencarinya karena saya pikir kartu itu pasti jatuh dan masih ada di tas itu, dan setelah sedikit membongkar tas saya menemukannya terjepit di bagian bawah tas. Saya masih beruntung karena ditemukan. Coba sekarang saya ajak kawan membayangkan apabila saat mau wawancara pekerjaan terus KTP Anda yang Anda yakin selalu ada di dompet tiba-tiba tidak ada, padahal Anda sudah sampai ruang tunggu wawancara, dan wawancara itu mewajibkan pesertanya menunjukan identitas diri. Bagaimana perasaannya. (Menepuk pundak) Yuk, Mari bersama introspeksi diri.
Kembali ke cerita lagi yuk, tak berapa lama menunggu di ruang tunggu panggilan untuk penerbangan kami JT sekian terdengar di pengeras suara, sontak saya dan ayah saya pergi ke pintu keberangkatan dan berjalan menaiki pesawatnya. Saya sempat berfoto di depan pesawat yang tidak jadi kami naiki.

Me with the Unusable plane ^_^


 Seat kami adalah 23 C dan D. Setelah duduk kami menunggu beberapa lama. Memang tidak lama kemudian semua penumpang sudah naik, dan pramugaridan pramugara sudah memperagakan prosedur keselamatan wajib yang harus diperagakan oleh seluruh maskapai penerbanagan, tetapi akhirnya pesawat kami tidak jadi berangkat. Pilot Romi yang masih menantu dari Uwak saya, saya bisasnya memanggilnya Kak Romi beserta co-Pilotnya yang asli Belgia memutuskan bahwa pesawat itu tidak layak untuk terbang dan semua penumpang termasuk saya dan ayah saya untuk pindah pesawat. Sambil tersenyum dalam hati saya berpikir, “Ini adalah pelajaran untuk saya saat sudah jadi diplomat, untuk tidak memaksakan dan tetap memprioritaskan keselamatan bersama.” Image maskapai itu memang sedikit turun di mata beberapa orang biasa, tapi sangat naik di mata orang-orang pintar. Sedikit turun tidak akan masalah kalau lawannya banyak naik di kalangan orang pandai.
Orang yang memaksakan kehendak akan hanya ragu untuk mengambil keputusan tersebut, karena pertaruhannya nama baik, tapi orang seperti kami akan berpikir masih ada kesempatan untuk tetap mengambil keputusan tepat dan menaikan nama baik. Kalau nanti saya jadi diplomat, saya beserta teman-teman dari Kementrian Luar Negeri Indonesia sudah duduk di dalam pesawat yang sebetulnya tidak layak untuk terbang kemudian kami disuruh turun dan berpindah pesawat, kami justru akan sangat senang karena keselamatan kami diprioritaskan daripada sekedar menjaga nama baik sesaat. ^_^
Coretan kisah terbang-terbangannya sampai di sini dulu. Besok akan saya lanjutkan lagi, kebetulan tinta untuk mencoretnya sedang dipinjam oleh adik saya Bayu dan Caca untuk belajar. ^_^

Coretan Pertama sang Calon Diplomat


Hola, nama saya Rio Alfajri, sekarang saya bekerja sebagai studenterpreneur, gabungan dari Enterpreneur dan Student. Sebagai seorang student saya diperintahkan Allah untuk melanjutkan proses mencari ilmu ke sebuah daerah yang kata ibu kos saya yang baru dulunya adalah rawa-rawa, Jatinangor. (Kalau ingat kata ayah saya dulu daerah Bangau, daerah SMA Xaverius 4 dan SMA Xaverius 1 itu juga rawa, Red). Ya, kawan itulah luar biasanya pendidikan, ibu kos saya yang baru sempat bercerita bahwa semenjak di Jatinangor ada perguruan tinggi koperasi Indonesia, IKOPIN, Institut Koperasi Indonesia, kemudian diikuti dengan berdirinya UNPAD serta IPDN, dan dilanjutkan pindahnya ITB ke Jatinangor, jadilah daerah yang dulunya rawa-rawa ini berubah menjadi daerah lautan pelajar. Bukan main-main kawan, setiap sore di kala puasa saja kita bisa melihat mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bersliweran di sini, pun akan jauh lebih ramai di hari-hari yang memang semestinya banyak mahasiswa berseliweran, hari sekolah.
Oh, iya di Jatinangor saya akan melanjutkan pendidikan di Universitas Padjajaran, di sini saya bergabung dengan keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Fisip ada juga yang menyingkatnya FISIPOL, ya yang mana saja boleh. Spesialis saya adalah jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Oleh karena itu, blog saya ini, semoga kelak bisa menjadi buku saya beri judul CORAT-CORET SI CALON DIPLOMAT, tadinya mau saya beri judul corat-coret si calon Dubes, tapi saya pikir Dubes itu juga diplomat makanya saya ganti jadi diplomat saja.
Bagaimana rasanya ngekost? Ngekost memang belum akrab dengan saya, bagaimana bisa akrab, setelah saya berusia 17 tahun lebih saya belum pernah merasakan bagaimana hidup jauh dari orang tua. Paling lama saya hidup agak terpisah dari orang tua adalah saat saya bersama beberapa teman lain berjuang membela kontingen Sumatera Selatan di Manado yang lamanya hanya 7 hari. Tapi saya bersyukur, karena pernah merasakan dan akan merasakan lagi bagaimana hidup mandiri. Saya jadi ingat ketika mendengar cerita Hadi yang dari OKI saat menghabiskan  3 tahun pendidikan SMA dengan jauh dari orang tuanya, saya rasa Hadi saja masih lebih beruntung teman saya yang saya juluki pejuang jauh harus lebih berjuang lagi. Pejuang ini namanya Praoja Yordan, dia anak seorang petani di Belitang, dia merantau ke Palembang dan bekerja di sebuah rumah sambil siangnya mencari ilmu di SMA Xaverius 4 Palembang. Praoja memang pejuang yang getol, saya masih ingat bagaimana bersama-sama dia menjelajah took buku bekas, tempat favorit kami saat SMA Xaverius 4 pulang lebih awal. Saya beruntung mengenal Praoja dan Hadi mereka berdua pejuang kuat, saya mendapat sosok mentor berharga dari mereka. Semoga kawan, semoga saya bisa menjadi pejuang yang lebih hebat dari kalian.
Teman-teman besok saya akan coretkan sedikit pengalaman saya yang diajari oleh ayah saya bagaimana cara naik pesawat, pelajaran ini saya dapat saat pergi ke Jatinangor bersama ayah saya, semoga pengalamn ini bisa bermanfaat ya. See You.