Slide Show

  • Saya sedang ada di Bale Santika UNPAD
  • My Picture When Registration
  • Me and The Unusable Plane
  • Like Father Like Sons
  • Adik Saya M.Bayu Yuliansyah

Kamis, 26 Juli 2012

Belajar Menikmati Pesawat-Pesawatan


Bonjour Sinyorita, masih mantengin coretan Si Calon Diplomat kan? Ya semoga coretan ini bisa menjadi amal Jariyah, bagi kita semua. Bagi kita semua ya bukan hanya untuk saya. Coretan ini adalah lanjutan dari coretan sebelumnya “Belajar Terbang-terbangan”, coretan kali ini lebih pas kalau disebut “Belajar Menikmati Terbang-terbangan”.  Saya ingatkan coretan kali ini berbau relatif, jadi yang sudah belajar relativitas (Fisika SMA Kelas XII) ataupun yang belum pasti bisa saja punya pendapat lain.
Sinyorita terbang dengan pesawat ataupun berpergian mengguanakan kendaraan umum apapun sudah sewajarnya harus kita nikmati. Menikmati naik kereta api lebih baik daripada kita hanya tidur sepanjang jalan kenangan di kereta api tersebut, begitu pula saat naik kapal laut, menikmati mabuk laut di buritan kapal lebih baik daripada sehat tetapi hanya tidur di ruang tunggu kapal. Toh, kawan biaya naik orang yang menikmati dengan orang yang tidur tetap sama. Sekali lagi ini relatif.
Saat naik pesawat kedua setelah dipindahkan tempat duduk kami tidak lagi di seat 23, karena salah seorang pramugaranya bilang duduknya boleh di mana saja asal tidak mengganggu yang lain, aya saya pun bilang kalau kita bisa duduk di Emergency seat. Pelajaran untuk menikmati naik pesawat terbang adalah duduk di Emergency seat. Tempat duduk ini istimewa lho, kalian bisa duduk dengan lebih leluasa di sini. Daerah kakinya jauh lebih luas daripada tempat duduk yang lain. Sehingga kita bisa menggerakkan kaki dengan bebas. Oh ya, kita juga akan mendapatkan penjelasan khusus bagaimana cara duduk di Emergency seat. Nikmat yang lebih nikmat daripada dua hal yang tadi adalah kita bisa dilatih bertanggung jawab, karena tanggung jawab orang yang duduk di Emergency seat lumayan besar yaitu menolong penumpang-penumpang untuk keluar lewat pintu darurat di samping Emergency seat saat terjadi musibah. Nikmat bukan kawan-kawan relatif, makanya saat di petugas boarding nanti mintalah duduk di Emergency seat.
Tak berapa lama setelah take off, ayah saya dipanggil untuk bertemu Kapten Romi di kokpitnya dan saya tidak diajak. Sebagai seorang calon diplomat yang sudah selesai membaca komik Conan seri 6 yang saya bawa, memutuskan untuk bisa menikmati pesawat meskipun tidak diajak ke kokpit ^_^. “Nanti saat saya jadi diplomat saya akan merasakan ke kokpit” celoteh hati saya. Hal yang pertama yang saya lakukan adalah mencoba toilet di pesawat, mulanya ragu tapi karena memang sudah ingi ke toilet saya mencobanya. Di penerbangan inilah saya pertama kalinya mencoba toilet di pesawat, mau tahu rasanya? Coba saja pasti lega deh, oh ya saya sarankan untuk menjaga keseimbangan ya, soalnya pesawat akan tetap mengalami turbulensi (guncangan sedikit) saat kita di toilet. ^_^
Oh ya saat masih di toilet pesawat saya bermaksud ingin memotret bagaimana sebenarnya toilet pesawat itu, tapi saya ingat peraturan kalau menyalakan HP di pesawat bisa menerima hukuman kurungan 2 tahun penjara, undang-undang yang kembali kurang tegas pengawasannya, saya tidak jadi melakukannya. Setelah selesai mencoba menggunakan toilet di pesawat saya kembali duduk dan ternyata ayah saya masih ada di ruang kokpit. Saya membuka kembali komik Conan dan membaca ulang bagian saat Conan ditipu oleh kedua orang tuanya sendiri.
Belum selesai membaca ada pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat. Sabuk pengaman mulai kembali dikenakan, setelah pesawat jgadagjgedugjgedagjgedug dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah mati, ayah saya belum kembali ke tempat duduknya. Ya akhirnya, kawan setelah giliran mengambil barang dari bagasi atas ayah saya kembali dating, kalu tidak saya bisa kerepotan dengan 1 koper dan 2 tas. Setelah selesai dan berjalan menuju pintu keluar ayah saya menyuruh saya untuk bersalaman dengan Kak Romi di runag kokpit. Akhirnya, saya tidak perlu menunggu saat kelak menjadi diplomat untuk masuk ke ruang kokpit. Dan yang membuat saya lebih berkesan adalah saat bersalaman dengan Kak Romi, saya dikenalkan dengan co-pilotnya yang berasal dari Belgia. Hebat bukan orang Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. ^_^
Adik Saya M. Bayu Yuliansyah
Petualangan di Jatinagor sebagai calon diplomat yang baik akan terus berlangsung semoga coretan sang calon diplomat kali ini bisa bermanfaat ya. Sampai jumpa di coretan berikutnya. Untung saya masih punya kertas kosong.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar